BAB 2. STORY
Ku
langkahkan kaki ku kearah sebuah rumah yang bernuansa biru langit yang
berukuran tak kecil dan tidak juga megah tapi lumayan besar menurutku.
“bagaimana yuna rumah baru mu?” ucap rin seraya
berjalan disampingku
“bukan rumah ku melainkan rumah mu” jawabku seraya
melihat papan nama pada plat nama keluarga “kanzaki” yang terpajang disamping pagar rumah yang
berwarna hitam.
“h’ai h’ai” jawab rin tak mau memperpanjang masalah,dibukanya
pagar yang membatasi jalan kami dengan rumah itu. Ku ikuti langkah kaki rin
dari belakang yang sedang berusaha membuka kenop pintu rumahnya “tadaima (aku
pulang)” ucap rin semangat.
“okaeri (selamat datang)” ucap seseorang dari dalam
rumah. Tunggu suara seseorang? Kaki ku yang awalnya melangkah masuk kearah
rumah terhenti diambang pintu ketika melihat siapa saja orang orang yang sudah
berdiri di depan pintu rumah.
“kenapa kalian berdua ada disini?” Tanya ku dengan
wajah yang tak senang
“are..are…kau tak tahu yuna-chan? Bahwa aku dan ran
memang tinggal disini” jlep…lenyap seketikalah pikiran ku tentang kententraman
yang ingin ku dapat.
“apa kakek tak memberitahumu yuna?” Tanya rin seraya
mengambil tas ku yang ku genggam.
“hahah jangan bilang kau tak tahu apa apa yuna” sahut
orang paling menjengkelkan yang pernah ada siapa lagi kalau bukan ran haizawa
yang sedang santainya duduk diruang keluarga yang tak jauh dari pintu masuk.
“aku benar benar ditipu oleh kakek sialan itu” desisku
pelan. Kesal? Oh pasti bagaimana tidak tinggal dan dekat dengan satu orang
makhluk berisik seperti rin saja sudah membuat ku gila apa lagi harus tinggal
dengan 3 makhluk paling berisik seperti akane dan makhluk paling menjengkelkan
seperti ran,oh ayolah apalagi hal yang lebih buruk dari tinggal bersama mereka.
“ran antar yuna kekamarnya” ucap rin seraya memberikan
tas ku yang dipegangnya yang kemudian segera diambil ran “yuna mau sampai kapan
kau berdiri disana cepat masuk” ucap ran yang segera ku turuti. Ku buka sepatu
dan kuletakkan didalam rak sepatu yang telah disediakan kemudian ku kenakan
sandal rumah yang sudah sengaja disiapkan dan segera berjalan mengikuti ran
dari belakang.
“ini benar benar buruk” gumam ku pelan,sedangkan
makhluk yang sedang berjalan didepan ku ini malah terkekeh pelan menertawai
kekesalanku.
Jam
menunjukkan pukul 07.30 malam,ku alihkan pandanganku yang awalnya menatap jam
dinding yang terpajang didinding kamarku kearah jendela yang sengaja ku buka
agar angin malam kota Kyoto ini bisa kurasakan. Sayup sayup terdengar suara rin
dan akane sedang berdebat. “seperti biasa selalu berisik,tak pernah berubah”
gumamku pada diri sendiri. Ku langkahkan kaki ku berjalan kearah balkon didepan
jendela kamar ku,ku rasakan hembusan angin malam kota Kyoto yang mulai masuk
kerongga hidungku. Ku pandangi pemandangan kota Kyoto pada malam hari dari
balkon kamar ku.
“sepertinya kau menikmati suasana disini ya yuna”
tanpa ku sadari rin yang awalnya berada di lantai satu tempat akane dan ran
berkumpul sudah berada di belakangku menunggu respon jawaban dari ku. Mendengar
suara yang tiba tiba masuk ke dalam indra pendengaranku seketika ku balikkan
tubuh ku kearah sumber suara “apa aku mengagetkanmu yuna?” Tanya rin berjalan
mendekatiku yang sedang berdiri dibalkon kamarku.
“seharusnya kau mengetuk pintu dulu rin,mana sopan
santunmu? Ini kamar seorang perempuan kau tau” jawabku seraya menatap rin
dengan datarnya yang berjalan kearahku. Kusandarkan tubuhku ke pagar penyangga
yang dipasang mengitari balkon kamarku.
“gomen gomen,habisnya kalau ku masuk tiba tiba
kekamarmu mungkin aku dapat melihat kau sedang ganti baju dan bisa mendengar
kau berteriak seperti kyaaaa atau hyaaaa
layaknya seseorang perempuan” ucap rin seraya memperagakan gaya ala seoarng
gadis yang sedang dilihat saat sedang ganti baju.
“kono hentai (dasar mesum)”
“hidoi ne yuna-chan”
“jadi,gara gara apa kalian ribut? Ran yang mengejek
akane yang tak bisa memasak atau akane yang marah gara gara ran dan kau lebih
jago memasak dari pada dia?”
“haha seperti biasa analisismu selalu tepat yuna”
“ya ampun,biar ku tebak pasti setiap sebelum makan
malam kalian akan berkelahi dulu”
“haha ya begitulah,jadi bagaimana?”
“ha?”
“suasana kamar baru mu,aku sengaja menyediakan kamar
dilantai dua ini untukmu”
“yaa…bisa ku katakan disini nyaman” ku alihkan pandanganku
yang awalnya menatap rin,ku alihkan memandang pemandangan kota “tapi aku tak
mengira keluarga kita punya rumah tetap disini,kau tahu kalau ada pun itu hanya
villa ataupun rumah musim panas”
“yaaa,saat aku dipindahkan kesini,kakek langsung
membelikanku rumah”
“heee souka (oo begitu)”
“bertanya kenapa rumahnya bergaya jepang bukan bergaya
eropa?” seperti bisa membaca fikiran,ku alihkan mataku dari rin menahan malu
karna pikiranku bisa ditebak dengan mudah oleh rin “aku tak terlalu suka rumah
dengan gaya eropa seperti rumah kita ditokyo entah kenapa aku merasa rumah
seperti itu terlalu megah dan besar untuk ditinggali ku sendiri,karna itu aku
lebih suka rumah bergaya jepang. Selain nyaman pas dengan ku” jelas rin panjang
lebar.
“hooo” ucapku seadanya. Sunyi,tidak ada dari kami
berdua yang berani memulai percakapan. Sedang asik asiknya memandang lampu
lampu yang terpancar dari kendaraan dikota,tiba tiba sepasang tangan tegap
manarik tubuh ku dalam satu tarikan kedalam pelukannya,dapat ku rasakan tubuh
yang memelukku ku itu sedikit bergetar entah karna senang atau ketakutan.
“kenapa?” Tanya ku datar
“syukurlah” ucap rin masih memelukku
“ha?”
“syukurlah kau masih di izinkan keluar seperti
ini,syukurlah aku masih bisa bertemu denganmu,syukurlah” tanpa terasa tubuh
tegap itu menangis. Orang yang selalu menjadi orang yang paling menjengkelkan
namun slalu melindungiku,orang yang slalu menjadi orang yang berisik namun ia
juga slalu menjadi orang yang paling menyayangiku,dan kini orang tersebut
menangis,menangis dalam dekapanku.
“rin?” ucapku melembutkan suaraku seraya mengusap
lembut punggung besarnya itu
“aku minta maaf yuna,maafkan aku. Waktu itu aku tak
menghalangi kakek,kau melindungiku dan kau yang mendapatkan hukumannya,maaf kan
aku yuna. Ku kira kau membenci ku,gomen” ku rasakan dekapannya semakin erat
seakan aku adalah sebuah harta yang paling berharga untuknya dan takut akan
kehilangan harta tersebut. Ku biarkan dia menangis dalam pelukanku,tak perduli
akan bahu ku yang mulai basah karna air matanya. Ku usap lembut punggung rin
berusaha menenangkannya, tak lama dekapannya mulai longgar dari tubuhku. Ku
lepaskan tubuhku dari dekapan rin,ku tatap matanya yang memerah,ku hapus air
matanya yang masih menggantung disudut matanya dengan tanganku.
“kau tak perlu minta maaf rin,aku melakukan semua itu
karna aku mau,lagian aku memang sudah terbiasa mendapat hukuman dari kakek
sialan itu,dan lagi perlu kau ketahui aku memang membencimu,tapi bukan dalam
arti sebenarnya,jadi kau tak perlu khawatir”
“aah wakatta (aku mengerti) arigatou ne yuna” ucap rin seraya mengusap kepala ku lembut “karna sudah masuk dalam keluarga kami arigatou”.
Ku
langkahkan kaki ku mendekati meja makan yang sekarang sudah diisi berbagai
macam makanan. Mencari tempat duduk yang menurutku pas dan segera mendudukinya.
“jadi akane-san apakah kau juga ikut membantu dalam
hal memasak makanan makan malam ini?” ucapku seraya menunjuk kearah makanan
yang tersedia
“aku hanya ikut membantu memasak telur gulungnya saja”
ucap akane seraya menunjukkan telur gulung hasil karyanya. Bisa dilihat bentuk
telur itu yang benar benar tak pantas lagi disebut sebagai telur gulung.
“yosh,kalau begitu…rin” panggilku
“ha’I ?” ku ambil telur gulung yang terdapat dipiring
yang sedang dipegang akane
“rin,cepat bawa telur ini dan bakar beserta piring
piringnya”
“roger yuna-chan” yang segera dikerjakan oleh
rin,terlihat raut wajah akane yang terkejut. Pandangan yang awalnya menatap
nanar kepergian rin segera dialihkannya kearah ku dengan pandangan memelas.
“jangan menatapku seperti itu akane-san,lagian aku
melakukan ini demi kepentingan bersama, aku tak mau ada korban jiwa bila
memakan racun yang kau sebut makanan itu” ucapku seraya menyantap nasi yang
sudah disediakan untukku
“hidoi nee yuna-chuaaan” ucap akane menangis buaya
“ya ampun” gumam ku dalam hati.
Setelah merasa perut ku sudah terisi ku langkahkan kaki menuju kamarku
yang berada dilantai dua,dalam perjalananku menuju kamar masih saja ku
mendengar suara akane dan rin yang sedang bertengkar gara gara telur gulungnya
dibuang rin.
“berisik” gumamku pelan. sesampai didepan pintu kamar
ku buka kenop pintu itu dengan pelan dan menutup kembali pintu kamarku ketika
aku sudah berada didalamnya. Ku pandangi pemandangan yang sangat janggal ketika
ku melihat apa saja yang ada didalam kamarku. Ku tatap datar makhluk yang
sedang asiknya membaca koleksi buku ku yang sudah ku tata dengan rapi kini
sudah ada ditangan makhluk itu. “kenapa kau ada disini baka? Bukannya kamarmu
ada disebelah?”
“ yuna kanzaki,atau lebih tepatnya yuna tomio,masuk
dan diadopsi oleh ayahnya rin kanzaki ketika berumur 5 tahun sebagai anaknya,mulai
memakai marga kanzaki berumur 12 tahun ketika ayahnya nuzuma tomio divonis
hukuman mati karna terlibat dalam kasus pembunuhan berantai dan terlibat
sebagai anggota pembunuh bayaran propesional,ibunya bernama kazuna tomio
meninggal karena dibunuh oleh nuzuma sang suami. Bersekolah di sekolah khusus
penyidik menengah pertama,setelah lulus melanjutkan ke sekolah khusus penyidik
menengah atas,namun pada tahun pertama terjerat dalam kasus pembunuhan seorang
saksi dalam sebuah kasus dan dijebloskan ke penjara.ditahan Selama 2 bulan dan
dipindahkan ke sekolah elit khusus perempuan st. rullilia,apa aku benar yuna
kanzaki-chan?”
“heh,seperti biasa aku slalu bertemu seorang database
yang menyebalkan,sampai sampai tahu dengan informasi yang sudah sengaja
disembunyikan dari public oleh kakekku,tak salah kau slalu dibanggakan sekolah
khusus database ran haizawa”
“namun pada satu titik tentang kasus pembunuhan saksi
terjadi kesalah pahaman,ternyata seorang saksi tersebut merupakan pelaku yang
berkedok sebagai saksi untuk menutupi kesalahannya,akibatnya rin haizaki yang
saat itu terlibat dalam kasus itu segera membunuh saksi tersebut dengan benda
tumpul. Kematian saksi tersebut disebabkan karna yuna kanzaki yang ikut dalam
kasus itu hampir dibunuh oleh sang saksi,melihat kejadian itu rin kanzaki tanpa
pikir panjang segera memukul saksi tersebut dengan benda tumpul menyebabkan
sang saksi meninggal dalam perjalanan kerumah sakit. Untuk membersihkan nama
rin kanzaki,kau mengaku bahwa kau yang membunuh saksi tersebut dan mengundurkan
diri dari sekolahmu dan di masukkan ke st. rulillia” mendengar pernyataan yang
disampaikan ran aku hanya bisa terdiam.
“aku mengetahuinya dari rin,data tersebut tidak akan
bisa ku dapatkan walau ku membobol data data informasi dari pihak kepolisian”
“cih,seperti biasa rin terlalu banyak bicara” desisku
kesal.
“walaupun seorang database tidak dapat menyimpulkan
sebuah kasus seperti yang dilakukan oleh penyidik namun dalam sebuah kasus
seorang database selalu dibutuhkan oleh penyidik,jadi jangan perah meremehkanku
yuna” ucapnya seraya berjalan kearahku dengan senyuman arogan kebanggaannya itu
“jadi,bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi secara detail kepada
tunanganmu ini yuna-chan? Kau tahu aku ini orangnya memiliki rasa penasaran
yang tinggi” ku alihkan pandanganku untuk menghindari tatapan matanya seakan
mengatakan ceritakan semuanya padaku yuna.
“itu bukan urusanmu haizawa-san”
“are…jadi kau menolak menceritakannya padaku, hmmmm….baiklah”
dan sedetik kemudian tiba tiba sesuatu yang lembut mendarat begitu saja
dihidungku,yang ku ketahui adalah kini si baka ini sedang mencium ku…lagi.
“apa yang kau lakukan aho” ucapku dengan muka yang
sudah merah karna malu dan mundur menjauh beberapa langkah dari tempatku
berdiri tadi
“haha,bagaimana yuna-chan? Lebih suka menceritakannya
padaku atau kau lebih suka dicium?” terlihat seringai kemenangan sudah tercetak
diwajah ran
“cih,kuso. Wakatta wakatta akan ku ceritakan,dan
berhenti menciumku hentai.” Ucapku kesal seraya berjalan kearah balkon kamarku.
“haha..ha’I ha’I” ucapnya seraya mengikutiku dari
belakang “o hime-sama”.
“jadi,bisa kah kau menceritakan semuanya yuna-chan?” ucap ran yang
sedang bersandar dipagar penyangga dengan memandang kearah ku “dan kenapa kau
berdiri menjauh dari ku seperti ini?”
“ak..aku hanya tak mau kejadian yang tak terduga
menimpa ku lagi” jawab ku yang sekarang berdiri menjauh dari ran.
“kau pikir aku ini apa?” ucap ran dengan nada tak
senang
“database hentai berwujud manusia yang sebenarnya
jelmaan para oni,yang akan mencium siapa saja”.
“ku harap kau mati yuna” terlihat perempatan kesal
muncul didahi ran.tapi sedetik kemudian tatapan ran melembut pada ku “hah…kemarilah..bagaimana
kau mau bercerita kalau kau berdiri sejauh itu,dan tenang saja aku takkan
berbuat macam macam” ucap ran meyakinkan ku,ku langkah kan kaki ku agak ragu
perlahan tapi pasti.
“bisakah kau ceritakan ada apa antara kau,keluarga
kanzaki,dan rin”
“haah kenapa kau ingin tahu sekali haizawa-san?”
“karna kau tunanganku”
“pertunangan itu hanya usaha formal untuk menyatukan
dua perusahaan,lagian kalau dilihat ini hanyalah sekedar status. Jadi aku tidak
punya hak untuk menceritakan kehidupan pribadiku pada anda haizawa-san”
“yuna-chan… boleh aku bertanya? Kenapa kau tidak
menolak pertunangan ini? Kalau kau berfikir seperti itu lebih baik kau batalkan
saja pertunangannya”
“itu usaha yang merepotkan,lagi pula pertunangan ini
tak terlalu merugikan ku,selama aku tak merasa rugi walau tak menguntungkan
bagi ku tak masalah,yang terpenting aku tak terlibat masalah karna menentang
pertunangan. Kenapa harus melakukan hal hal yang merepotkan kalau ada acara untuk
tidak terlibat dalam hal hal yang merepotkan?”
“heee apa kau tidak mempunyai pacar atau teman yang
menghalangi mu saat pindah kesini?”
“tidak ada…”
“haaah sudah ku duga putri kanzaki ini mana mau
berteman dengan orang yang tidak setara dengannya.
“bukan aku yang tak ingin berteman dengan
mereka,tetapi mereka yang tak mau berteman dengan ku,menyandang nama marga
kanzaki kau tahu seberapa banyak pembullyan yang terjadi? Mendapat perhatian
dari rin yang merupakan orang yang paling dikagumi dan diidolai diseluruh
sekolah,tidak hanya pintar tetapi juga tampan dan baik kau tahu seberapa banyak
perempuan perempuan itu yang menbenciku? Para lelaki yang memandangku aneh
karna memiliki warna rambut yang berbeda dari rin dan seluruh keluarga
kanzaki,dan berakhir dengan rambutku yang diwarnai karna usulan kakek. Hanya
akane dan rin yang mau dekat dekat denganku, kau kira apa lagi yang lebih buruk
dari itu? Lebih baik tak punya bukannya itu lebih baik?”
“lalu bagaimana dengan kei? Bukannya kalian pernah
berteman?”
“aah maksudmu kitagawa-san? Ya mungkin pernah tapi
entahlah” pandanganku yang dari tadi menatap ran ku alihkan kearah jalanan
bermaksud megingat kembali hal hal yang telah terjadi.
“kau menyukainya kan? Kei?” skakmate seperti bisa
membaca pikiran orang lain kutatap mata itu seraya tersenyum kecil.
“mungkin iya mungkin tidak” jawabku sekenanya,dan
sekarang ran yang menatapku dengan tatapan dinginnya.
“yuna-chan apa kau tahu apa itu monochrome?”
“dunia dimana yang bisa kita lihat hanya kegelapan
warna hitam dan putih,dunia itu bisa runtuh bila kita menemukan seseorang yang
dapat mebuat kita berharap kepadanya dengan kata lain itu namanya jatuh cinta.”
“sekarang bagimu dunia ini terlihat seperti apa?”
“bagiku? Mungkin terlihat seperti dalam film lama yang
tak berwarna yang hanya terlihat berwarna hitam putih,dan tidak mempunyai suatu
ketertarikan”
“apa kau pernah jatuh cinta? Ku dengar bila seseorang
yang jatuh cinta saat dia melihat dunia dia akan melihat dunia penuh dengan
warna bunga sakura dan merasa dia benar benar bersyukur karna dilahirkan”
“tidak pernah,karna itu merepotkan”
“trus bagaimana dengan kei? Kau pernah merasakan
perasaan seperti itu saat bersamanya?”
“mungkin pernah. Tapi untuk apa mengingat sesuatu yang
tak penting itu benar benar merepotkan”
“heee..benarkah?” seraya melangkah menjauh ku dan
menuju pintu keluar entah kenapa aku merasa punggung itu terlihat seperti
punggung seseorang yang sedang menahan kekecewaan. “yuna…ah boleh aku
memanggilmu seperti itu?”
“terserah,lakukan sesukamu saja”
“ne,,,yuna” ucapnya seraya memegang kenop pintu “kau
tahu kenapa aku tak membatalkan pertunangan ini?”
“kenapa?”
“karna aku selalu penasaran dengan sesosok perempuan
yang bisa membuat kei terkesima dan bisa membuat kei jatuh cinta pada
seseorang,penasaran dengan sosok yang bisa membuat rin gelisah saat memkirkan
bagaimana keadaannya,dan juga penasaran pada sosok yang dapat membuat akane
untuk pertama kalinya bercerita panjang lebar dari biasanya tentang adiknya
rin,asal kau tahu disini banyak yang mengkhawatirkan dirimu,karna itu kuharap
kau tidak jatuh makin dalam. Walaupun aku tak menyukaimu tetapi tetaplah
bersamaku karna aku merasa suatu saat kau akan menjadi seseorang yang paling
berharga dalam hidupku,yuna”dan segera menutup pintu kamarku ketika dia sudah berada
diluar kamar. Ku pandangi pintu yang menjadi akses jalan keluar ran tadi “suatu
saat kah,heh”.
Jam menunjukkan pukul 10 A.M, pelajaran pertama hampir selesai namun
sampai sekarang keberadaan ran masih belum diketahui, ku pandangi
kurosaki-sensei dengan malas, “aaah lihatlah betapa banyak nya para gadis
dikelas ini yang mengaguminya” gumamku pada diri sendiri seraya melihat kearah
para siswi siswi yang memandangi kurosaki-sensei dengan tatapan memuja. Tak
ambil pusing ku tidurkan kepalaku diatas meja dan mulai memejamkan mata. Baru
beberapa menit ku pejamkan mata bel pergantian jam sudah berbunyi, ku angkat
kepalaku ketika mendengar suara seorang gadis tiba tiba berbicara denganku.
“anu…summimasen ano..apakah ran-chan tidak masuk hari
ini?” ku pandangi gadis yang sedang berbicara denganku ini satu kata yang dapat
ku ucapkan.
“kawai (manisnya bisa juga diartikan sebagai cantik)”
bagaimana bisa makhluk secantik dan semanis ini ada dihadapan ku dengan rambut
pirang ikal panjang,tubuh bak model mata bulat dengan bola mata yang
indah,kulit bak porselen,dan bibir yang mungil menambah kesan cantik baginya,
ku kerjap kerjapkan mataku ketika tangan nya itu berada didepan mukaku “ ah
are? Gomen doushite (ada apa)?”
“ah iie (ah tidak) anu sono apakah kau melihat ran
haizawa? Aku sedang mencarinya”
“tidak..” jawabku singkat
“ah souka” ucapnya dengan tampang kecewa,ku pandangi
gadis yang ada didepan ku ini dengan tatapan datar seperti biasanya menyadari
sedang dipandangi seketika gadis itu langsung menggenggam tanganku yang ku
letakkan diatas meja. “anu apakah kau…yuna kanzaki-san?” terkejut dengan sikap
tiba tiba gadis yang ada didepan ku ini ku anggungkan kepalaku pelan berusaha
menutupi keterkejutanku “aah yokatta (syukurlah) ternyata aku tak salah orang
kau tunangannya ran-chan kan? perkenalkan namaku hikari,hikari kurosaki aku
adiknya kurosaki sensei,”
“apaaa? Kanzaki-san tunangannya haizawa?” ucap seorang
gadis yang berdiri tak jauh dari kami. Sayup sayup terdengar bisik bisik dari
para siswa perempuan di kelas.
“heee…apa apaan ini? Kenapa dia? Curaang…”
“benar benar padahal hikari-san lebih cantik darinya
kenapa bukan hikari-san saja”
“Cuma gara gara dia dari keluarga kanzaki,dia fikir
dia hebat”
“hee kalian tak tahu..katanya di anak adopsi keluarga
kanzaki..”
“benarkah? Haha menjijikkan”. Ku tatap datar wajah
yang sedang berada didepan ku ini “bagus…sudah sekuat tenaga ku ancam akane dan
rin untuk tak memberitahu siapapun soal pertunangan ini,dan gadis ini malah
membocorkannya..” gumamku dalam hati.
“aaah aku lupa…seharusnya aku tak membicarakannya
keras keras…gomen ne kanzaki-san” ucapnya seraya membungkkukkan tubuhnya
“dan kau baru sadar sekarang? Sebenarnya seberapa
bodoh gadis ini..minta maaf pun percuma baka”desisku pelan agar tak terdengar
oleh gadis yang ada didepanku ini “jadi..kau kesini ingin mencari haizawa..etto
kurosaki-san?”
“arara..panggil hikari saja. Iie sebenarnya aku kesini
ingin memastikan mana yang namanya yuna”
“hoo” ucapku seraya memandanginya bosan.
“anu…” dan seketika gadis ini membungkukkan
tubuhnya..lagi “kanzaki-san aku mohon jadilah temanku” ucapnya seraya berteriak
keras.
“ha?”
“iya..kumohon jadilah temanku..aku ingin menjadi teman
dekat bahkan sahabatmu”. Ku tatap gadis ini lekat lekat “anak ini gila” gumamku
“aku benar benar ingin berteman denganmu
kanzaki-san..aku kesulitan dalam mencari teman karna itu aku mohon jadilah
temanku” terdengar sayup sayup suara para siswi dikelas yang tak rela hikari
berteman denganku.
“jangan berbohong kurosaki-san..lihat betapa banyaknya
penggemarmu yang berkicau tak inginnya
mereka kau berteman denganku”
“iie…sono..aku benar benar ingin berteman denganmu
kanzaki-san aku mohon” ucapnya masih dalam sikap membungkukkan tubuhnya. Tak
tahan dengan tingkah kurosaki ku langkahkan kaki ku menuju pintu masuk kelas
“terserah mu saja”. Mendengar ucapanku terlihat
kilauan diwajah nya dan mengembanglah senyuman manisnya itu.
“anu kalau begitu boleh aku memanggilmu yuna-chan?”
“lakukan seseukamu saja” ucap ku seraya meninggalkan
dia dan menjauh dari kelas.terdengar sayup sayup ucapan terima kasih yang
dilontarkan gadis itu berkali kali
“haaaah”
bersambung
please coment or review :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar